Mengenang Bapak Pluralisme
Masih terbayang
Sewindu yang lalu
Seorang anak menulis puisi tentang sosok yang ia kagumi
Aku lupa namanya, tapi usianya 10 tahun kala itu
Ia meneteskan air mata sembari
menuangkan isi hatinya
Pena terayun oleh jemari kecil miliknya
Ia baru sadar, seorang Gus Dur telah tiada.
Aku lupa keseluruhan bait puisi itu,
Padahal si anak sempat membacakannya untukku.
Yang kuingat hanya sepenggal saja,
"Maafkan kami, Gus", katanya..
Entah mengapa anak itu begitu bersedih,
Saat ku tanya, ia hanya berkata:
"Saya terlambat mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Gus Dur"
Ternyata, ia merasa dirinya lalai karena baru menyadari perjuangan sosok presiden ke-4 ini.
Gus Dur,
Sosok yang seumur hidupnya ia habiskan untuk mengabdi pada kemanusiaan
Sosok yang begitu moderat
Tak pernah gentar dalam mengangkat derajat minoritas
Ia bukan hanya negarawan, tapi juga ulama dan cendekiawan terkemuka
Semua orang mengetahui jejaknya
Tapi hanya segelintir saja yang mau menghargai jasa-jasanya.
Ah, hari ini aku kembali terngiang raut wajah anak kecil itu
Aku merasa begitu dekat dengannya
Semangatnya mengalir didalam jiwaku
Semakin mengungkap realita
Bahwa setiap manusia
Tak peduli siapa dia
Tuhan menitipkan pesan kebaikan agar manusia lain dapat belajar darinya []
Harlah Gus Dur
Kolaka, 4 agustus 2017
Sewindu yang lalu
Seorang anak menulis puisi tentang sosok yang ia kagumi
Aku lupa namanya, tapi usianya 10 tahun kala itu
Ia meneteskan air mata sembari
menuangkan isi hatinya
Pena terayun oleh jemari kecil miliknya
Ia baru sadar, seorang Gus Dur telah tiada.
Aku lupa keseluruhan bait puisi itu,
Padahal si anak sempat membacakannya untukku.
Yang kuingat hanya sepenggal saja,
"Maafkan kami, Gus", katanya..
Entah mengapa anak itu begitu bersedih,
Saat ku tanya, ia hanya berkata:
"Saya terlambat mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Gus Dur"
Ternyata, ia merasa dirinya lalai karena baru menyadari perjuangan sosok presiden ke-4 ini.
Gus Dur,
Sosok yang seumur hidupnya ia habiskan untuk mengabdi pada kemanusiaan
Sosok yang begitu moderat
Tak pernah gentar dalam mengangkat derajat minoritas
Ia bukan hanya negarawan, tapi juga ulama dan cendekiawan terkemuka
Semua orang mengetahui jejaknya
Tapi hanya segelintir saja yang mau menghargai jasa-jasanya.
Ah, hari ini aku kembali terngiang raut wajah anak kecil itu
Aku merasa begitu dekat dengannya
Semangatnya mengalir didalam jiwaku
Semakin mengungkap realita
Bahwa setiap manusia
Tak peduli siapa dia
Tuhan menitipkan pesan kebaikan agar manusia lain dapat belajar darinya []
Harlah Gus Dur
Kolaka, 4 agustus 2017
Komentar
Posting Komentar