Wajah Anak: Wajah Kota Masa Depan
Anak.
Apa yang kalian pikirkan tentang entitas yang satu ini? Polos? Lucu? Periang?
Sebagian orang mungkin akan melekatkan beberapa kata yang menggambarkan
karakter anak. Beberapa orang mungkin juga akan teringat dengan masa kecilnya
saat kata “Anak” menyelinap masuk di telinga menuju saraf otaknya. Ya,
berbicara masa kecil, khayalanmu tentunya sedang menggali peristiwa masa lalu. Sedih, senang,
tangis, tawa, senyuman manis, ah, apapun suasananya, masa kanak-kanak adalah
satu fase yang spesial dalam hidupmu, bukan? Bahkan seringkali ada yang bilang,
“andai bisa kembali menjadi anak-anak”. Meski saya khawatir, kalimat ini justru keluar dari ucapan
orang ‘dewasa’ yang sedang berputus asa dengan problema hidupnya.
Anak
dalam kacamata konstitusi kita adalah seorang (perempuan atau laki-laki) yang
berusia di bawah 18 tahun, termasuk yang masih di dalam kandungan. Meski
begitu, istilah anak juga merujuk pada kondisi mental seseorang yang dianggap
belum dewasa secara psikologis, sekalipun secara fisik sebaliknya. Namun, pada
‘pertemuan’ kali ini, kita akan bersepakat untuk menggunakan definisi yang
pertama.
Kita
memahami bahwa anak merupakan elemen penting dari suatu masyarakat. Masa depan
suatu bangsa sangatlah bergantung pada kualitas generasi muda yang akan menjadi
penerus di masa depan, di sinilah posisi anak. Jangankan untuk skala bangsa, di
dalam perkumpulan yang lebih kecil seperti lembaga mahasiswa pun, perihal
regenerasi merupakan agenda prioritas yang mesti dipikirkan bersama-sama.
KOTA RAMAH ANAK
Sebagai
salah satu dari 193 negara yang turut meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA),
Indonesia telah menerima kewajibannya untuk mengambil semua langkah legislatif, administratif, sosial,
dan pendidikan secara layak untuk melindungi anak-anak dari segala bentuk
kekerasan. Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak mencanangkan program Kota Layak Anak (KLA) sebagai upaya menciptakan kota
yang ramah anak.
Gagasan Kota Ramah Anak ini berangkat dari sebuah
penelitian yang dilakukan oleh Kevin Lynch, seorang Arsitek dari Massachusetts
Institute of Technology. Penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kota yang
ideal untuk anak adalah yang mempunyai komuniti yang kuat secara fisik dan
sosial; komuniti yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas; yang memberi
kesempatan pada anak; dan fasilitas pendidikan untuk mempelajari dan
menyelidiki lingkungan dan dunia mereka.
Di
Istanbul, Turki tahun 1996, perwakilan pemerintah di seluruh dunia bertemu
dalam sebuah konferensi (City Summit)
dan menandatangani sebuah Program Aksi dalam rangka menciptakan pemukiman yang
lebih nyaman untuk ditempati. Program yang bernama ‘Agenda Habitat’ ini menegaskan
bahwa anak dan remaja mesti memiliki tempat tinggal yang layak; terlibat dalam
proses pengambilan keputusan, baik di kota maupun di komunitinya. Melalui City
Summit itu, UNICEF dan UNHABITAT memperkenalkan Child Friendly City Initiative,
terutama menyentuh anak kota, khususnya yang miskin dan yang terpinggirkan dari
pelayanan dasar dan perlindungan untuk menjamin hak dasar mereka.
Pemerintah
Indonesia melalui Undang-Undang No 23 tahun 2002 menegaskan bahwa anak memiliki
31 hak. Jika disarikan, terdapat 4 hak dasar. Yaitu Hak Hidup, Tumbuh Kembang,
Perlindungan dan Hak Partisipasi. Demi mendorong pemenuhan hak anak tersebut,
pemerintah bahkan membentuk Forum Anak sebagai wadah partisipasi dan
pengembangan potensi anak.
ANAK INDONESIA, APA KABAR?
Di setiap tahunnya, begitu banyak agenda yang
diperuntukkan bagi anak diselenggarakan oleh pemerintah, komisi perlindungan
anak hingga organisasi-organisasi yang concern
terhadap isu anak. Pertemuan Forum Anak Nasional yang dihadiri oleh perwakilan
anak dari sabang sampai merauke, setiap tahunnya menghasilkan sebuah surat
suara hasil musyawarah anak-anak Indonesia. Surat suara tersebut bahkan sempatdibacakan di hadapan Presiden pada Acara Hari Anak
Nasional. Meski begitu, apakah pemenuhan hak anak di Indonesia
telah menunjukkan titik terang?
Sidang pembaca yang semoga saja masih setia
menyimak..
Kita tidak dapat menutup mata dengan apa yang
terjadi di sekitar kita. Ketika berkunjung ke pantai losari, mata kita
disuguhkan dengan fenomena yang meresahkan kita, yang semoga saja benar membuat
kita resah. Anak-anak kecil dengan pakaian lusuhnya mendatangi meja pengunjung,
menjajakkan dagangan, mengamen, atau lebih mirisnya lagi; mengemis. Inilah
wajah kota kita. Ya, Kota yang dipaksa berlari menuju ‘Kota Dunia’. Di
pemberhentian lampu merah, tak luput pula pemandangan yang sama. Semuanya
seolah menjadi hal yang biasa dan wajar. Kita bahkan mungkin merasa heran jika
tak melihat hal yang serupa ketika berjalan-jalan mengitari kota. Tak pelak
lagi, begitu banyak anak-anak yang mesti bekerja dengan berbagai alasan.
Bagi penulis yang sejak
setahun lalu telah melepas ‘predikat’ anak, menjalin komunikasi dengan anak-anak adalah pengalaman yang
penting untuk diulang bahkan dijaga sampai tua. Kita bisa banyak belajar dari anak-anak.
Saat duduk di bangku kelas 3 SMP, saya bergabung di Forum Anak di daerah saya.
Sejak saat itu, saya mulai berinteraksi dengan anak-anak dari berbagai
kecamatan maupun kota. Sesekali kami
meluangkan waktu untuk bermain dan belajar bersama anak-anak jalanan. Menikmati
waktu dengan mereka membuat kami membuka mata bahwa tidak semua anak telah
mendapatkan hak-hak dasarnya.
Setelah masuk ke perguruan
tinggi, saya kembali mendapati fenomena serupa di Kampus Merah - UNHAS. Sejak maba, saya sering mengamati anak-anak yang berjualan di dalam kampus. Ada
yang berjualan stiker, buku-buku keagamaan, camilan, dan lain lain.
Mereka sering terlihat di kantin, di taman, ataupun di koridor. Awalnya, ini
tidak begitu menggangguku. Setiap kali dihampiri seorang anak yang membawa
serta dagangannya, seperti biasa, saya selalu mengajak mereka mengobrol sebelum
memperlihatkan sikap ingin membeli. Membuka percakapan kecil dengan anak-anak
selalu terasa menarik. Pertanyaan sederhana perihal nama, alamat hingga
pertanyaan mengapa ia mau berjualan. Oh iya, pertanyaan yang tidak terlupakan
seperti “sekolah dimana?”, “kelas berapa?” menjadi pertanyaan yang penting,
tentu saja.
Sayangnya, tidak semua anak
memberi jawaban yang kita harapkan. Sebagian mengungkapkan dengan nada rendah bahwa
ia tidak bersekolah. Yang paling mengganggu pikiran adalah disaat si anak
menampakkan ekspresi yang berbeda. Ekspresi yang tidak asing. Lirikan mata
mereka, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Saat beberapa anak menjawab bahwa
mereka bersekolah, mereka terlihat ragu. Saya khawatir, mereka telah diajari
oleh orang-orang dewasa untuk menyembunyikan bahwa mereka tidak bersekolah.
Saya tidak tau mengapa. Pernah, dengan pola jawaban yang sama, tidak jauh dari
si anak, saya melihat seorang perempuan yang juga berjualan, yang ternyata
datang ke kampus bersama dengan si anak yang sedang saya ajak berbicara.
Mungkin saja itu ibunya, atau keluarganya. Entahlah.. semoga saja anak-anak itu
tidak sedang dipaksa untuk berjualan. Ah, tentu saja ini bukan dunia sinetron
seperti yang sedang saya bayangkan!
Di sektor FIS, lebih
khususnya di sekitar Fakultas Ekonomi dan FISIP, ada beberapa anak yang sering terlihat menjajakkan dagangannya.
Impian ingin memiliki barang-barang yang diinginkan, seperti sepeda, sepatu baru, atau membeli kado ulangtahun
sang ibu, ialah beberapa motif mereka berjualan. Umumnya,
beberapa anak berjualan karena ikut-ikutan dengan kawannya, hingga kemudian merasa nyaman karena punya penghasilan sendiri.
Tiara, Ika, Ipul, Wulan,
adalah yang paling sering terlihat. Selain Ipul, tiga orang lainnya sedang
duduk di bangku sekolah dasar, kelas VI. Hampir setiap harinya, penulis bertemu
dengan mereka, entah sekedar bersenyum sapa, atau bersepakat untuk menikmati
sore bersama. Di antara mereka, saya paling sering bertemu
dengan Tiara dan Ika. Keduanya memang merupakan anak dari seorang petugas
kebersihan di Fakultas Ekonomi. Beruntung, mereka semua masih punya semangat bersekolah. Meski terkadang juga saya mesti ‘menginterogasi’ salah satu
diantaranya yang membandel dan bolos pada jam sekolah. Semoga ini bukan pertanda mereka mulai malas bersekolah. Tidak jarang, saya melihat ketiga anak perempuan itu berjualan dikampus sambil memakai rok sekolah. Sedangkan Ipul, ia sering membuat cemas. Beberapa kali mendapatinya berjualan di pagi hari, Ipul memang tidak serajin yang lain, dia masih kelas III. Alih-alih merasa harus
belajar giat menyambut Ujian Nasional, Ipul terkadang justru meninggalkan jam pelajaran demi menjual. Meski begitu, setidaknya Ipul masih berkeinginan untuk
sekolah.
Empat orang anak ini
bekerja atas keinginan mereka sendiri. Terutama mereka yang
sebentar lagi akan mendaftar masuk
Sekolah Menengah Pertama. Sedikitnya mereka perlu membayar biaya administratif dan membeli atribut pokok sebagai siswa baru. Mereka tidak ingin merepotkan orang tua mereka, dan berinisiatif untuk
mencari sumber penghasilan sendiri, yakni berjualan camilan. Tela-tela, Camilan Ubi rasa balado yang mereka jajakkan menjadi kesukaan para mahasiswa di
Fakultas Ekonomi. Supplier jualan
mereka adalah Ibu Kantin di sekolahnya. Ibu dari Mey-Mey, seorang anak kecil
yang juga sering ikut ke kampus menemani Tiara berjualan.
Tiara; usianya 14 tahun. Ia
pernah menganggur bersekolah, karena sempat berpisah dari orang tuanya. Di
antara yang lain, tiara cukup komunikatif untuk diajak bercerita tentang banyak
hal. Ia anak yang cerdas dan berpikiran dewasa. Sesekali ia datang untuk
membawakan tugas sekolah alias PR-nya
atau meminta bantuan untuk menyukseskan surprise ulang tahun Ibu gurunya. Ia
sering bercerita tentang kondisi keluarganya yang tidak begitu harmoni. Tak
jarang ia mengeluarkan pendapat yang membuat saya kagum dengan karakter anak
ini. Ia sabar, pekerja keras dan bersikap sopan pada orang-orang yang ia temui.
Saya belajar banyak dari sosok Tiara dan
teman-temannya.
Awalnya, saya merasa tidak
yakin dengan alasan anak-anak ini berjualan. Saya sempat curiga ia bekerja
karena dipaksa oleh pihak tertentu. Mungkin karena saya menjadikan diri saya
sebagai acuan. Diri yang sulit berdamai dengan keadaan. Sedangkan anak-anak
ini, di usianya yang masih dini, sudah berani mengambil langkah untuk membantu
meringankan beban keluarga, tanpa melepaskan hak dan kewajibannya untuk
menempuh pendidikan. Sekalipun berpotensi mengganggu proses tumbuh kembangnya,
beberapa anak ini tampak menikmati apa yang mereka kerjakan. Di sela-sela waktu
berjualan, mereka menghabiskan waktu untuk bermain dan mengobrol dengan sesama
mereka, atau dengan para mahasiswa.
Namun, mari menelisik kembali..
Apakah jumlah anak yang bekerja adalah pertanda baik bagi kota yang ideal?
WAJAH ANAK DAN WAJAH KOTA
Belakangan ini,
kita berduka atas fenomena terorisme yang merenggut korban jiwa dan mengusik
kemanusiaan. Ironinya, kejadian ini ternyata melibatkan anak-anak untuk
melancarkan aksi pengeboman. Fase anak memang adalah fase yang sangat rentan. Data KPAI menyebutkan ada 26.954 kasus kekerasan
anak dalam 7 tahun terakhir. Sehubungan dengan penelitian sederhana yang
dilakukan penulis, Badan Pusat Statistik (BPS) 2009 mengungkapkan bahwa jumlah
anak Indonesia dengan kelompok umur 5-17 tahun sebesar 58,8 juta anak. Sebanyak
4,05 juta tergolong sebagai anak-anak yang bekerja, dimana 1,76 juta di
antaranya merupakan pekerja anak.
Yang dimaksud dengan ‘anak
yang bekerja’ adalah anak yang melakukan pekerjaan untuk membantu orang tua,
dimana di dalam pekerjaan tersebut terdapat unsur pelatihan keterampilan dan
tanggung jawab, serta dilakukan pada waktu senggang yang relatif singkat di
luar jam sekolah. Sedangkan yang dikategorikan sebagai ‘pekerja anak’ ialah
mereka yang melakukan segala jenis pekerjaan yang intensitasnya dapat
mengganggu pendidikan, keselamatan, kesehatan, dan tumbuh kembang anak.
Sebuah kabar baik bahwa
Kota Makassar di tahun
2017 meraih penghargaan sebagai Kota Layak Anak oleh Kementerian PPPA RI. Benar, ada beberapa syarat formil yang telah berhasil diwujudkan
sehingga predikat ini dapat diraih. Namun, jika kita merujuk pada indikator
yang ada (pembaca disilahkan mengakses informasi ini), kita dapat menyaksikan
realita bahwa Kota ini masih jauh dari esensi Kota Layak Anak itu sendiri.
Menurut data yang dilansir
oleh BP3A Kota Makassar, angka kekerasan anak di kota Makassar terus meningkat
sejak 2015 hingga 2018, dimana tercatat 1.046 kasus di tahun 2017. Keterlibatan anak-anak dalam dunia
pekerjaan bisa menjadi salah satu peluang bagi kekerasan anak, baik
secara fisik maupun psikis. Dengan bekerja, proses pendidikan dan tumbuh
kembang anak juga dapat terganggu. Meskipun sebagian anak yang bekerja masih
tetap bersekolah, tetapi definisi pendidikan tidak sesempit menghadiri mata
pelajaran yang disuguhkan di ruang kelas. Dalam mencapai tumbuh kembang yang
optimal dan berkualitas, hak-hak anak mestilah dipenuhi. Anak butuh bermain,
berkreasi, berkumpul dan berserikat, serta pemanfaatan waktu luang untuk
kegiatan seni budaya.
Wajah anak adalah
wajah kota di masa depan. Kualitas anak turut
menentukan bagaimana masa depan kehidupan masyarakat kota. Arus modernisasi
yang menyerbu kota turut membawa peluang sekaligus tantangan bagi proses
aktualisasi diri anak. Banyak hal kecil yang dapat kita lakukan sebagai seorang
pembelajar di kampus. Mengobrol akrab dan saling berbagi dengan anak-anak yang
berjualan, anak dari Mace-mace di
kantin, atau anak dari petugas cleaning service. Di lembaga mahasiswa, kita
juga dapat mengadakan program kerja yang bisa menjadi media belajar dan
partisipasi bagi anak, apalagi mereka yang putus sekolah, anak jalanan, maupun
penyandang disabilitas. Setiap kita tentu memiliki keluarga, dimana di dalamnya
ada anak-anak. Mulailah dari hal kecil, berbagi kebahagiaan dengan mereka.
MENANAM HARAPAN
Jika anak adalah harapan
bagi kehidupan yang lebih baik, sudah semestinya kita sadar dan peka terhadap
tumbuh kembang anak sebagai generasi yang akan meneruskan cita-cita peradaban.
Semangat pembaharuan dan nilai-nilai kebaikan mesti ditanamkan sejak dini pada
jiwa anak. Orang dewasa tidak berhak memahat jiwa anak persis seperti yang
mereka ingini, sebab setiap individu adalah unik. Namun, saya percaya bahwa jiwa anak layaknya tanah lapang yang
subur. Jika kita menanam benih
kebaikan padanya, tentu saja ia akan tumbuh seperti pohon yang kelak menghasilkan buah kebahagiaan bagi keluarga, bangsa,
dan semesta alam. Bertutur
kata yang lembut, bersikap hangat dan menghargai pendapat mereka adalah
tindakan kecil yang berarti. Anak adalah manusia. Sesederhana itu alasan
mengapa kita mesti berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi
mereka.
*Tulisan pernah dipost di himahiunhas.org
Komentar
Posting Komentar