Aku padamu, Indonesia
Bangsa ini berdiri di atas jatuh bangunnya para Tokoh Nasionalis dan Priyai.
Di atas cucuran darah dan air mata para pejuang,
Mengasa pikiran, menghunus pedang
demi cita-cita besar.
Menunda tidur, menahan lapar bukan untuk waktu sebentar.
Mengubur rindu pada sanak saudara,
karena kecintaannya pada bangsa dan negara.
Memang benar, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika lahir dari jiwa murni bangsa Indonesia.
Di antara begitu banyak perbedaan; suku, agama, ras, bahkan cara pandang, para pahlawan itu memilih mengutamakan persatuan.
Mereka tahu bahwa dibalik perbedaan, mereka juga punya persamaan, yakni sama-sama Cinta 'Kemanusiaan'.
Ya, mereka berjuang demi kemanusiaan.
Satu kata yang maknanya begitu jauh melampaui apa yang difikirkan orang-orang yang tidak mengenal cinta.
"Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain". Begitu sabda manusia suci yang diberi gelar, rahmatan 'lil alamin. Rahmat bagi semesta alam.
Jangan kau lukai senyuman mereka dengan bertikai dimana-mana.
Jangan kau iris Bhineka Tunggal Ika dengan pisau pengakuan diri lebih benar.
Jangan kau sayat hati Garuda dengan merasa diri lebih mulia.
Bukankah dalam kitab suci hanya Sang Pemilik Jalan yang mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya?
Bukankah hanya Dia yang tahu siapa saja yang telah Ia cerahkan hatinya?
Indonesia mencintaimu.
Bunga-bunga yang telah gugur itu telah menghendaki keharumannya untuk kita nikmati bersama-sama, tanpa terkecuali.
Karena Indonesia bukan milik satu suku, ras, atau satu agama.
"aw ishlaahin bayna alnnaasi..", atau mengadakan perdamaian di antara manusia [an-nisa 114].
Salam Peradaban.
Aku padamu, Indonesia 🌹
(Titania Ramadhanti)
Makassar,
13 februari 2017 M.
Di atas cucuran darah dan air mata para pejuang,
Mengasa pikiran, menghunus pedang
demi cita-cita besar.
Menunda tidur, menahan lapar bukan untuk waktu sebentar.
Mengubur rindu pada sanak saudara,
karena kecintaannya pada bangsa dan negara.
Memang benar, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika lahir dari jiwa murni bangsa Indonesia.
Di antara begitu banyak perbedaan; suku, agama, ras, bahkan cara pandang, para pahlawan itu memilih mengutamakan persatuan.
Mereka tahu bahwa dibalik perbedaan, mereka juga punya persamaan, yakni sama-sama Cinta 'Kemanusiaan'.
Ya, mereka berjuang demi kemanusiaan.
Satu kata yang maknanya begitu jauh melampaui apa yang difikirkan orang-orang yang tidak mengenal cinta.
"Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain". Begitu sabda manusia suci yang diberi gelar, rahmatan 'lil alamin. Rahmat bagi semesta alam.
Jangan kau lukai senyuman mereka dengan bertikai dimana-mana.
Jangan kau iris Bhineka Tunggal Ika dengan pisau pengakuan diri lebih benar.
Jangan kau sayat hati Garuda dengan merasa diri lebih mulia.
Bukankah dalam kitab suci hanya Sang Pemilik Jalan yang mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya?
Bukankah hanya Dia yang tahu siapa saja yang telah Ia cerahkan hatinya?
Indonesia mencintaimu.
Bunga-bunga yang telah gugur itu telah menghendaki keharumannya untuk kita nikmati bersama-sama, tanpa terkecuali.
Karena Indonesia bukan milik satu suku, ras, atau satu agama.
"aw ishlaahin bayna alnnaasi..", atau mengadakan perdamaian di antara manusia [an-nisa 114].
Salam Peradaban.
Aku padamu, Indonesia 🌹
(Titania Ramadhanti)
Makassar,
13 februari 2017 M.
Komentar
Posting Komentar