MARAH vs SABAR
Location: Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Belakangan ini, ada yang bilang bahwa situasi politik Indonesia sedang hangat. Hangat loh ya, bukan panas. Cukup aneh mengetahui bahwa hangatnya situasi politik ini justru begitu cepat memberikan efek secara meluas bagi masyarakat, tidak hanya di Daerah bersangkutan. Tidak terkecuali kaum muda, yang sebelumnya –mungkin- belum pernah ngomong politik. Kebanyakan seolah jadi pakar politik mendadak. Apa karena pemanasan global juga turut menjadi faktornya? Kalimat-kalimat geram menjadi lebih interesting untuk dibaca atau didengarkan. Bahasa kemarahan menjadi santapan tidak hanya di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Tidak hanya di jalanan, bahkan di dapur sekalipun. Saya jadi khawatir, tanggapan para turis mancanegara yang sering mengatakan “Indonesia adalah bangsa yang ramah” hanya akan menjadi HOAX di hari kemudian.
Ariestoteles pernah mengatakan, boleh saja kita marah, tetapi marahlah kepada sasaran yang tepat, pada waktu yang tepat, dan di tempat yang tepat. Namun, jangan berkepanjangan. Pula, jangan terlalu lama memendam emosi, sebab, akan melahirkan dendam.
Beberapa bulan lalu, seorang kakek menceritakan pada saya tentang kisah yang dialaminya ketika cucunya datang sambil menangis di pangkuannya. Ceritanya, si cucu sedang bertengkar dengan adiknya sampai menanggalkan gigi si adik. Ia datang kpada kakeknya untuk mencari perlindungan agar tak dimarahi ibunya sebab telah melukai adiknya. Dia terus menangis. Kakek itu menirukan gaya cucunya lalu melanjutkan ceritanya. Dengan sedikit mengkerut, si kakek mengisahkan bahwa kala itu ia sempat kesal, karena waktu tidurnya terganggu oleh cucunya yang tidak mau berhenti menangis meskipun telah dibujuk. Alih-alih berhenti menangis, cucunya itu malah makin deras air matanya. Namun, setelah beberapa lama, akhirnya dia berhenti menangis.
Esok harinya, si kakek mengantar cucunya untuk pulang. Setibanya di rumah, ia melihat adiknya tengah tertidur. Ia mendekati adiknya, mencium pipinya dan berkata, “I’m sorry, baby”. Ia lakukan itu berkali-kali, barangkali karena menyesal telah melukai si adik.
Jadi, anak kecil juga bisa mengalami stres, sebagaimana cucu si kakek tadi, yang disebabkan oleh perasaan bersalah karena melukai adiknya. Perasaan bersalah tersebut dapat menjadi salah satu penyebab deadly emotion, apalagi yang menjadi korban adalah orang terdekat atau tercinta. Deadly emotion adalah emosi yang dapat menyebabkan penyakit, secara fisik atau kejiwaan. Jadi, emosi, meski merupakan kondisi mental, dapat juga berpengaruh terhadap fisik. Kasus yang paling relevan ialah ketika seorang remaja yang putus cinta didapati raut wajahnya yang sangat “pelit” akan senyum, tidak lagi seceria biasanya, bahkan parahnya ada juga yang sampai “kurusan” akibat stres yang dirasakannya. (Waduh, semoga pembaca bukan salah satunya yaa, hehe)
Sebaliknya, kondisi fisik juga dapat mempengaruhi mental, ketika di ruang kuliah, kita terkadang merasakan lapar, di dalam perut seolah ada konser rock yang dilakukan oleh organ tubuh maupun cacing-cacing di dalam perut kita. Pikiran kita menjadi teralihkan, perasaan kita menjadi gelisah, kita seolah sangat ingin memajukan waktu agar jam kuliah segera usai.
Oia, kembali ke persoalan “marah” tadi. Salah satu dari beberapa hal yang dapat timbul karena kemarahan ialah permusuhan. Kita bisa melihat hal ini jika seseorang melampiaskan kemarahannya kepada yang dituju. Tindakan verbal maupun nonverbal akan nampak sebagai output dari rasa marah itu, cacian maki bahkan gerakan tangan seperti memukul dapat menjadi produksi kemarahan. Meski ada yang bilang bahwa tindakan nonverbal lebih “mendingan” daripada tindakan verbal yang dapat menyayat hati seseorang, namun kedua hal ini sama-sama tidak memberikan profit bagi pelakunya.
Social media hari ini sering kali diidentikkan dengan istilah pesan berantai. Entah itu quotes romance, quotes agama, quotes lucu atau broadcast yang tidak memiliki validitas kebenaran. Semua itu dengan mudah digunakan oleh pemilik akun untuk diposting maupun dijadikan display picture BBM, WA, Line, dll. Kita tidak akan panjang lebar membahas social media, kita mungkin akan membahasnya dilain waktu, namun saya ingin mengutip tulisan yang sejak saya duduk di bangku SMP, 5 tahun yang lalu, saya sangat sering mendapati kutipan ini diposting oleh tweeps yang sepertinya sedang berusaha tegar dari sakit hati yang dirasakannya, mungkin quote ini juga tidak asing bagi teman-teman.
“Ibarat kertas putih yang dicoret dengan tinta, meski coba kau hapus, namun Ia tidak akan seputih semula”, atau “Ibarat kertas yang dibuat jadi gumpalan, meski coba dilebarkan kembali, kertas itu tidak akan mulus seperti awalnya”.
Makna quotes diatas bisa berbeda-beda, mungkin tergantung tingkat kecerdasan emosional pembacanya. Banyak yang menafsirkan,bahwa lisan atau ucapan seseorang yang menyinggung perasaan orang lain, itu sangat sulit untuk bisa dilupakan begitu saja, ucapan maaf pun ternyata tidak cukup untuk mengobatinya. Sehingga, dikatakan bahwa kertas putih tidak akan kembali seperti semula.
Namun, sebagian orang juga cenderung berbeda dengan penafsiran ini. Sebab, menurut mereka, sabar itu tidak berbatas. Ketika mengatakan bahwa kesalahan yang dibuat orang lain akan selalu membekas di jiwa, sebenarnya adalah bentuk kekalahan kita dalam mencapai hakikat sabar dan memaafkan.
Lebih menakjubkan lagi, sebagian tokoh ulama yang kita kenal sebagai pewaris para nabi, penebar kedamaian, ketika dihina, sentak orang-orang yang mencintainya marah dan menuntut si penghina itu memintaa maaf, namun sang ulama justru mengatakan “tiada yang perlu dimaafkan”. What a great sentence, right?
Saya mengibaratkan kesabaran itu seperti puncak anak tangga, setiap kali kita hendak melangkahkan kaki dari anak tangga satu ke anak tangga selanjutnya, akan selalu ada duri yang menunggu kita. Jadi, ketika kita dihina atau direndahkan, jangan buru-buru marah. Sebab, barangkali ia memang digerakkan Sang Maha Pengatur untuk menguji kesabaran kita. Agar naik kelas, seseorang tentu harus lulus ujian, bukan? #selfreminder
Rasa marah muncul dari dalam diri sebab kita merasa bahwa dunia berjalan tidak seperti apa yang kita inginkan. Kita ingin agar alam sekitar mau menuruti kemauan kita. Kita ingin agar tidak ada yang menginjak sepatu baru kita, kita mau agar jalanan bebas macet, atau kita menghendaki agar adik kita menuruti semua perintah kita. Dan ketika semua itu tidak terjadi, maka kitapun marah. Padahal, seharusnya tidak demikian. Kita tidak bisa mengharapkan alam sekitar berjalan dibawah kendali kita, sebab yang dapat dikendalikan ialah diri kita masing-masing.
Beberapa langkah mengendalikan amarah yang ditawarkan oleh seorang pakar ialah mengidentifikasi penyebab marah, menandai tanda-tanda munculnya kemarahan (agar tahu, apakah marah sudah hilang ataukan hanya terpendam dan bisa meledak suatu saat), mengubah persepsi kita pada pemicu kemarahan, karena terkadang apa yang membuat kita marah belum tentu membuat orang lain marah, maka tidak ada salahnya jika kita mengubah cara pandang kita seperti orang lain itu, agar kemarahan tidak muncul. Selain itu adalah berwudhu, seperti yang dianjurkan Rasulullah . Sebab, marah berasal dari setan dan setan tercipta dari api. Dan api akan redup jika disiram air. Maka, marah akan berhenti jika seseorang berwudhu. Kemudian melakukan shalat, memohon pertolongan Allah agar marah itu dipadamkan. Insya Allah.
Well, di akhir tulisan ini saya mau menyampaikan permohonan maaf jika sistematika penulisan masih jauh dari yang diharapkan pembaca.
Terakhir, seorang filosof pernah menuliskan,
“Jangan lupa bersujud kepadaNya
Dalam jungkir-balik keduniaan kita
Biar terus terpelihara kejernihan
Kepala dan hati dalam kesibukan duniawi kita”
Selamat melangkahkan kaki menuju puncak kesabaran!
Selamat menebar cinta dan kedamaian!
Semoga Allah senantiasa mencerahkan hati kita.
Wassalamu'alaikum, wr.wb
Salam peradaban!
17 Februari 2017,
Di hari ulang tahun sahabat saya, Nur Madinah Latif.
Happy birthday!
Tabe.. ijin share ya..
BalasHapusIye, silahkan. Semoga bermanfaat..
Hapus